Senin, 26 Mei 2008

Heroes of Indonesia - Joko Suprapto, Alternative Fuel Inventor


Joko Suprapto is from Nganjuk, East Java – Indonesia. He’s well known as a generous man but also a reclusive person. He invented a new machine with sea water as an alternative energy which then developed with together with Blue Energy team. The main energy, water is separated into 2 flammable gas, Hydrogen and Oxygen. This hydrogen will replace oils as a main fuel.

Joko made this fuel with his friend, Heru Lelono, joined as a team called Blue Energy. They met in 2007 when Joko invents an alternative electric generator. The name Blue Energy refers to an eco friendly, low emition fuels, officially stated by President of Indonesia SBY.

In May 20, 2008, Joko is invited by President SBY for a National Rising Day event. But a couple days before, he is missing. This news responded quickly. Some intel and police is mobilized. But they found nothing. Suddenly, Joko come home at Friday, May 23.

In his living room, he held a press conference, telling the reporter that he didn’t kidnapped. He said that he want to seclude, to think the right strategy for project fund raising. In the middle of interview, suddenly he passed out unconciously. No farther information about this.

Anyway, this invention is not the first time. There’s also a team that invent the same thing. But this news give Indonesia a hope. A hope for brighter future in the middle of the hard time. Thanks to Joko Suprapto, one of Indonesian Heroes.

http://futureindonesia.blogspot.com/2008/
05/heroes-of-indonesia-joko-suprapto.html

LIPI: Unsur Hidrogen Jadi Kunci Energi Bahan Bakar Air

Jakarta - Blue energy atau bahan bakar dari air yang dipopulerkan Joko Suprapto yang kini raib, bukanlah hal yang mustahil. Kunci bahan bakar itu ada pada unsur hidrogen yang berpotensi menghasilkan energi.

Penjelasan bahan bakar air yang bisa menjadi energi tersebut dijelaskan Deputi Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Jan Sopaheluwakan ketika dihubungi detikcom, Jumat (23/5/2008).

"Bisa saja dari air. Saya yakin diurai dulu menjadi hidrogen," ujar Jan.

Jan menambahkan, proses air yang diubah menjadi energi ini sudah dilihatnya dikembangkan beberapa pakar di Jepang dan India. Prosesnya, air ditambahkan ke suatu proses pembakaran. Air dimasukkan ke dalam tangki, melalui proses tekanan dipisahkan menjadi oksigen dan hidrogen. Hidrogen akan menghasilkan pembakaran internal yang bisa menggerakkan piston.

"Pembakaran internal dalam mesin yang tadinya menggunakan BBM dan kemudian BBM memicu busi membakar dan membuat piston bergerak. Proses (BBM) itu diganti dengan hidrogen," kata dia.

Tak hanya air tawar, Jan pun menjelaskan air laut bisa dijadikan bahan bakar melalui proses desalinasi (menghilangkan unsur garam). "Air laut bertahap. Desalinasi reverse osmosis menjadi air tawar. Air tawar kita uraikan menjadi hidrogen dan oksigen," kata Jan.

Jan pun mencontohkan bagaimana hebatnya tenaga hidrogen, bila bertemu dengan oksigen, bisa menghasilkan energi seperti bom atom. "Terjadi pertemuan H2 dan 02. Kenapa bom hidrogen terjadi, karena hidrogen bertemu oksigen dari udara," kata dia.

BBM yang selama ini digunakan, imbuhnya, mempunyai unsur hidrokarbon (CH). Jadi kalau hidrogen yang dipisahkan itu diberi unsur karbon, bukan mustahil bisa menjadi seperti bensin yang punya oktan tinggi.

"Karbon bisa dari CO2 yang dikeluarkan dari gas knalpot atau pabrik. Nanti bereaksi dengan hidrogen menjadi rantai hidrokarbon. Sesuai hukum kekekalan energi, energi itu bisa diubah bukan diciptakan," ujar dia.

Yang menjadi masalah, lanjut dia, adalah memisahkan unsur hidrogen itu dari unsur lain untuk diubah menjadi energi. Kendati, hidrogen merupakan unsur yang paling banyak terdapat
di atmosfer.

"Tapi nggak bisa didapatkan dalam unsur bebas di udara. Memisahkan hidrogen itu butuh tenaga besar," imbuh Jan.

Memisahkan hidrogen itu, bisa menggunakan tenaga Matahari atau dengan memanfaatkan perbedaan temperatur air laut yang menghasilkan perbedaan panas yang bisa diubah menjadi energi listrik.

"Tapi memang kita perlu mendorong secara besar-besaran hidrogen sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik maupun untuk internal combustion," kata dia. ( nwk / nrl )

http://www.kendaraanhibrida.com/2008/05/
lipi-unsur-hidrogen-jadi-kunci-energi.html

‘Blue Energy’ dan Teori Konspirasi

Hari ini blog saya sempat beberapa kali kewalahan melayani pengunjung. Setelah saya selidiki hal ini disebabkan karena luar biasa banyaknya pengunjung yang mencari dengan kata kunci “blue energy”, mungkin akibat efek pemberitaan di media massa. Pencarian Google Indonesia untuk kata kunci “blue energy” menghasilkan tulisan saya di peringkat pertama. Efek ini ternyata jauh lebih dahsyat daripada Detik Effect yang saya alami tiga tahun yang lalu. Akibatnya, saya sempat menutup akses ke blog ini untuk sementara. Masalah beban berlebih ini baru bisa diatasi setelah saya memasang plugin WP Super Cache.

Akhir tahun yang lalu, Joko Suprapto –warga Nganjuk, Jawa Timur– mengklaim menemukan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, yang sumbernya adalah air laut, dan bisa dijual seharga Rp 3000/liternya. Hasil analisis saya terhadap informasi yang tersedia berkesimpulan bahwa klaim tersebut mustahil untuk direalisasikan. Ironisnya, ‘prestasi’ ini terlanjur dibangga-banggakan di ajang konferensi Internasional tentang perubahan iklim di Bali.

Awal bulan ini, Joko Suprapto tiba-tiba menghilang tak berjejak dan keluarganya pun tidak mengetahui dimana keberadaannya. Rencananya tim ‘Blue Energy’ akan membangun pilot project berupa kilang dengan kapasitas produksi 10 liter/detik. Kilang ini tadinya direncanakan akan diresmikan pada tanggal 1 April yang lalu, dan proyek ‘Blue Energy’ itu sendiri akan diresmikan pada acara peringatan 100 tahun Kebangitan Nasional. Tapi karena penemunya sendiri tidak dapat ditemukan tentu saja acara tersebut menjadi batal.

Saya sudah dapat menduga kalau ada kejadian seperti ini, maka akan beredar teori konspirasi yang aneh-aneh. Dan sebenarnya teori-teori konspirasi ini sudah beredar bahkan jauh sebelum kejadian ini. Bunyi teori konspirasi tersebut kurang lebih adalah: sang penemu dibungkam oleh pihak-pihak yang tidak menyukai ‘teknologi’ tersebut, pihak-pihak tersebut di antaranya adalah perusahaan minyak multinasional dan intelijen Amerika Serikat.

***

Teori konspirasi semacam itu bukannya yang pertama kali. Sebagai contoh, pada tahun 1995 Stanley Meyer mengklaim telah menemukan mesin yang menggunakan bahan bakar air. Dalam klaimnya, kendaraan bermesin Meyer mampu menempuh perjalanan dari Los Angeles ke New York hanya dengan ‘bahan bakar’ sejumlah 83 liter air. Hal ini tentunya bertentangan dengan hukum alam dan mustahil untuk diimplementasikan.

Pada tahun 1996, Meyer dituntut oleh para investornya. Pengadilan memutuskan Meyer bersalah atas tindakan penipuan dan mengharuskan yang bersangkutan membayar $25000 sebagai ganti rugi kepada investor-investornya.

Dua tahun kemudian, Meyer meninggal dunia akibat tekanan darah tinggi setelah makan di sebuah rumah makan. Walaupun demikian, teori konspirasi tidak ada matinya, Meyer dianggap meninggal akibat diracuni oleh perusahaan minyak dan pemerintah Amerika Serikat. Meyer dianggap ‘membahayakan’ kepentingan ‘pihak-pihak tertentu’ sehingga perlu ‘dibungkam’. Menurut teori konspirasi ini, alasan mengapa tidak ada energi yang murah adalah karena teknologi tersebut ‘dibungkam’ selama bertahun-tahun. Alasan sebenarnya tentu tidaklah sejauh itu: sebenarnya penemu energi ajaib ini tidak mampu mendemonstrasikan penemuannya sesuai dengan yang diklaim.

***

Kalau mereka bisa membuat teori konspirasi, sayapun memiliki teori konspirasi versi saya: Ada orang dekat Presiden yang melaporkan ‘penemuan’ bahan bakar air kepada Presiden SBY. Presiden kemudian tertarik dan terkesima atas ‘demonstrasi’ yang diberikan. Presiden kemudian membiayai proyek ini dengan menggunakan dana pribadi dan bahkan mensponsori mereka ke ajang konferensi UNFCCC. Di saat yang sama, pemerintah terdesak harga minyak dunia yang sudah melewati titik psikologis $100/barrel. Tapi Presiden merasa memiliki secercah harapan pada ‘teknologi’ ini. Pemerintah menolak untuk memperkecil subsidi BBM dengan berbagai macam alasan. Tanggal 1 April terlewati begitu saja tanpa ada hasil yang nyata. Presiden memutuskan untuk menunggu satu bulan. Tapi satu bulan pun terlewati begitu saja, dan bahkan penemunya pun semakin sulit untuk ditemui. Akhirnya, dengan bersungut-sungut, Presiden terpaksa menaikkan harga BBM untuk mengurangi beban subsidi.

Semoga saja teori konspirasi saya tersebut salah, namanya juga teori konspirasi :).

Tambahan:

Hanya satu bulan sebelum ‘Blue Energy’ ramai dibicarakan, Presiden SBY membuat janji untuk tidak menaikkan harga BBM pada tahun 2008:

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2008.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden usai melantik Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) baru, di Istana Negara, Rabu (7/11) siang. “Tidak ada opsi itu, karena kita cari solusi yang lain, yang cespleng. Paling tidak mengurangi dampak tanpa harus menimbulkan permasalahan pada masyarakat luas. Insya Allah kita carikan jalan terbaik,” kata Presiden kepada wartawan.

Pemerintah, lanjut Presiden SBY, akan terus melakukan langkah-langkah untuk mengatasi harga minyak yang kian melambung. “Kita lakukan langkah-langkah domestik, kebijakan yang lain, supaya kita bisa mengatasi. Ada solusi, tidak mengguncangkan perekonomian kita, tidak mengubah anggaran pembelanjaan kita. Itu yang sedang kita lakukan, yang pada saatnya kalau memang begini terus dan lebih tinggi lagi, tentu akan ada yang kita lakukan secara signifikan,” kata Presiden SBY.

Solusi lain yang cespleng? Mengurangi dampak tanpa harus menimbulkan permasalahan pada masyarakat luas? Langkah-langkah domestik? Solusi yang tidak mengguncangkan perekonomian kita dan tidak mengubah anggaran pembelanjaan kita?

Apakah Presiden SBY tertipu? Apakah langkah menunda kenaikan harga BBM dipengaruhi kepercayaan beliau pada ‘cespleng’-nya ‘Blue Energy’? Anda pikirkan sendiri :).

http://priyadi.net/archives/2008/05/23/
blue-energy-dan-teori-konspirasi/

Penemu Blue Energy, Dikabarkan Diculik

NGANJUK- Joko Suprapto, warga asal Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso yang disebut-sebut sebagai penemu blue energy, bahan bakar dari air, menghilang. Dalam dua minggu terakhir, lelaki yang akrab disapa Joko Jodhipati (nama stasiun radionya, Red) itu tidak berada di rumahnya. Berbagai spekulasi pun berkembang.

Salah satunya menyebut, dia diculik oleh kelompok tertentu. Hingga kemarin, keberadannya tak jelas. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. "Dia sekarang sedang dicari-cari," ungkap salah satu teman dekat Joko kepada Radar Kediri.

Diungkapkan sumber tersebut, sepekan lalu, para pejabat kepolisian dan TNI sempat berkumpul di Nganjuk untuk mencari keberadaan Joko. Orang-orang dekatnya dimintai keterangan. Termasuk dirinya.

Mereka menanyakan keberadaan alumnus teknik elektro Universitas Gajah Mada (UGM) Jogja tersebut. "Dia memang sedang dicari SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Red)," katanya.

Ini terkait dengan penelitian yang dilakukan ayah tiga putra tersebut. Khususnya tentang blue energy yang bisa menjadi bahan bakar alternatif murah. Sebab, rencananya, hari ini, bahan bakar tersebut akan diluncurkan ke masyarakat sehingga bisa segera dimanfaatkan. "Tetapi, ternyata sejak dua minggu lalu tidak ada kabar lagi," tutur sumber yang mewanti-wanti agar namanya tidak dikorankan tersebut.

Seperti diberitakan, teknologi temuan Joko sudah dipamerkan dalam ajang United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali. Teknologi ini sebenarnya berpusat pada penyediaan listrik yang murah untuk memproses air sebagai bahan bakar. Yakni, untuk memecah molekul air menjadi H (+) dan O2 (-). Sehingga, bisa dijadikan bahan bakar alternatif pengganti solar, bensin, avtur, maupun minyak tanah.

Bahan bakar yang sudah diberi nama blue energy itu diproduksi di Cikeas, Bogor. Keunggulannya, rendah emisi dan irit. Juga murah karena hanya berharga Rp 3 ribu per liter. Presiden SBY sendiri yang memperkenalkannya. Dalam perjalanan ke Bali, rombongan yang berangkat dari Cikeas juga sempat mampir di Nganjuk untuk menemui Joko.

Informasi yang diperoleh Radar Kediri, sejak Joko menghilang, aparat intelijen juga dikerahkan untuk mencarinya. Termasuk ke rumahnya di Desa Ngadiboyo. "Tiap hari ditanyai intel-intel polisi berpakaian preman," ungkap penjaga rumah Joko yang tak mau disebutkan namanya. Namun, dia tak mengetahui. Sebab, tidak biasanya sang majikan meninggalkan rumah dalam waktu lama.

Wartawan koran ini juga melihat empat petugas kepolisian berpakaian preman yang berjaga-jaga di rumah Joko yang menjadi satu dengan stasiun radio miliknya. Mereka berasal dari polsek. Winda Mirah, istri Joko, bahkan mengaku sempat didatangi kapolres dan kapolwil yang menanyakan keberadaan sang suami. "Semua tanya-tanya tentang bapak," katanya kepada Radar Kediri.

Meski demikian, dia tetap berusaha tenang. Bahkan, saat ditemui di rumahnya, Winda tampak sibuk mempersiapkan pertunjukan wayang kulit dua anaknya. Mohamad Trimulyo dan Oky Irfan Cara. "Bapak memang tidak pamitan sama saya, tetapi sudah (pamit) anak-anaknya," tuturnya.

Wanita berambut lurus ini menjelaskan, sikap Joko yang tidak pamit kepadanya terkait dengan penyakit jantung yang dideritanya. "Bapak tidak ingin saya sakit," terangnya.

Winda sendiri baru mengetahui dari penuturan anaknya. Kepada sang anak, Joko pamit pergi dua minggu sejak 3 Mei lalu. Joko juga berpesan kalau keluarga tidak akan bisa menghubungi karena ponselnya dimatikan. Inilah yang membuatnya stres. Sebab, dia sendiri yang mengantarkan suaminya hingga Bandara Juanda Surabaya tidak dipesani apa-apa.

Joko hanya mengatakan pergi ke Jakarta. Dan, bagi Winda, hal itu sudah biasa. Sebab, Joko tak pernah berhari-hari pergi. "Kalau pergi pagi, malam sudah pulang, tidak pernah lebih sehari meninggalkan saya," tutur Winda.

Winda sendiri mengaku berusaha tenang. Dia masih menunggu sampai batas waktu yang diberikan suaminya, 20 Mei, hari ini. "Kalau ternyata sampai tanggal 20 tidak pulang, saya baru ambil tindakan," tandasnya tanpa menyebut tindakan yang dimaksud. "Kadang kalau mikir, saya stres Mbak," lanjutnya.

Dia hanya berkeyakinan, sikap suaminya yang menyimpan rahasia justru dimaksudkan untuk menjaga keselamatan keluarga. Sebab, saat ini, harga BBM terus melonjak tinggi dan mulai langka.

Lalu, bagaimana dengan isu yang menyebut bahwa suaminya melakukan tindak pidana? Winda tak yakin atas hal tersebut. Dia menganggapnya sebagai isu yang diembuskan dari pesaing bisnis suaminya.

Sementara itu, Joko hingga kemarin belum bisa dihubungi. Berkali-kali wartawan koran ini mengontak, nomor ponselnya tetap tidak aktif. Kapolwil Kediri Kombes Pol Sukamto Hadi yang dikonfirmasi tentang hal ini juga membantah pernah ke rumah Joko untuk menelisik keberadaannya. "Saya tidak tahu," ujarnya melalui ponsel, kemarin.

Dia juga mengaku tidak tahu menahu terhadap kasus menghilangnya Joko. Termasuk soal isu yang menyebut bahwa yang bersangkutan diculik oleh kelompok tertentu. (dea/ut/hid)

http://www.kendaraanhibrida.com/2008/05/
penemu-blue-energy-dikabarkan-diculik.html

April Kilang Minyak Sintetik Dioperasikan

Rencananya pada April mendatang akan dioperasikan kilang minyak sintetik dengan kapasitas 5.400 barrel per hari atau setara dengan 10 liter per detik. Kilang tersebut akan difokuskan pada produksi minyak tanah.

Heru Lelono, salah satu peneliti yang berhasil mengembangkan bahan bakar sintetik ini mengatakan, seperti dikutip dari Tempo Interactive, 25/11, tujuan produksi minyak sintetik itu adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak fosil.

Bahan bakar sintetik yang disebut blue energy ini dibuat dari substitusi molekul hidrogen dan karbon tak jenuh. Proses pembuatannya sama dengan minyak fosil namun dengan kadar emisi yang jauh lebih rendah. Untuk jenis bahan bakar diesel misalnya, kadar emisinya hanya 2,8 persen, lebih rendah dari minyak fosil yang sebesar 50-60 persen.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, bila produksi sebesar 5.400 barrel per hari tersebut bisa tercapai, maka produksinya akan dikembangkan lagi. "Pada tahap itu bisa dikembangkan lebih luas lagi menjadi industri berskala tertentu yang bisa memproduksi bahan bakar minyak ini," katanya.

Presiden SBY menceritakan bahwa tim ini pertamakali datang menghadap kurang lebih setahun lalu dan sejak itu SBY bersama para menteri terus memberikan dukungan. "Saya bahkan mengikuti terus perkembangan penelitian ini," ujar SBY. "Bermula dari seorang peneliti yang lebih mengutamakan proses penelitian di lapangan dan bukan teori, Joko Suprapto, yang melaksanakan penelitian itu belasan tahun yang lalu," Presiden menambahkan.

"Saya memberikan semangat, motivasi, dan dorongan agar penelitian, pengembangan, dan penemuan ini betul-betul menghasilkan sesuatu yang akan memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa Indonesia bahkan dunia. Lakukan terus dan tuntaskan penelitian ini. Saya akan menunggu hasil konkretnya setelah semua penelitian ini selesai," kata SBY. ** (Ardan)

http://www.technologyindonesia.com/
organization.php?page_mode=detail&id=15

Blue Energy - Mimpi masa depan yang sudah terasa di Indonesia !

Istilah Blue Energy tiba-tiba marak dalam minggu-minggu ini karena berita di koran yang cukup bombastis dengan mengatakan bahwa Blue Energy Versi Indonesia ini berbehan dasar air laut dengan menggunakan mesin diesel tanpa modifikasi lagi. Silahkan baca websitenya Pak Presiden SBY

Blue Energy atau Minyak Indonesia Bersatu adalah bahan bakar sintetik yang dibuat dari substitusi molekul Hidrogen dan Karbon tak jenuh. Proses pembuatannya sama dengan minyak fosil, namun dengan kadar emisi yang jauh lebih rendah.

"Pakdhe, Jangan-jangan Pak SBY kena HOAX ?"
"Hust !"More...

Yang ternyata lebih menghebohkan adalah kutipan dari Jawapos sini

"Berbahan Dasar Air, Dipamerkan dalam Konferensi PBB
NGANJUK- Tak banyak yang tahu, penemu bahan bakar blue energy yang sedang dikampanyekan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata berasal dari Nganjuk. Dia adalah Joko Suprapto, warga Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso."

Wah mentang mentang warna biru itu warna laut terus dibilang bahwa yang dimaksud blue energy itu berbahan dasar air laut ... Blaik !!!
Akhirnya istilah blue energy ini mungkin sudah menjadi sebuah kelirumologi di Indonesia ketika bersamaan dengan konferensi UNCCC di Bali tentang Global Warnming . Yang jelas mesti ada teori yang berbau keilmuan dibelakang semua ini, dan ada sesuatu ang dapat dipakai sebagai dongengan, kan ?
Apaan sih Blue energy

Tidak ada satu kalimat yang tepat yang saya temukan untuk mendefinisikan Blue Energy. Istilah Blue energy hanyalah istilah yang sering dipakai untuk menamakan sumber-sumber penghasil energi yang ramah lingkungan. Biru sering dianggap sebagai manifestasi langit biru ataupun laut biru yang jernih dan bebas polusi. Ada juga yang mengistilahkan sebagai green energy, karena dianggap energi yang ramah lingkungan.

Sumber energi yang disebut-sebut sebagai Blue Energy seringkali bersumber dari sumber energi terbarukan termasuk sumber-sumber energi non-fosil, atau lebih tepatnya non carbon based energy, artinya bahan dasarnya bukan berupa rantai karbon. Misalnya Energy Air Laut, Energy Geothermal, Energy angin, Energy Surya, dan lain-lain.

Namun sepanjang perjalan sejarah, energi karbon masih merupakan energi termudah untuk diolah dan didapatkan. Termasuk didalamnya adalah BioEnergi. Bio Energi sendiri masih merupakan Carbon Based, atau masih berupa rangkaian karbon. Sumber Bioenergi ini bisa bersumber dari BioGas, Bio ethanol, minyak jarak, minyak goreng (CPO-Crune Palm Oil) yang diubah menjadi BioDiesel dll.
Energi berbahan dasar Karbon (Carbon Based Energy)

Awalnya pembakaran karbon sebagai sumber tenaga ini dimulai dari pemanfaatan batubara atau batu arang yang tentusaja merupakan rangkaian Carbon juga. Namun dalam proses penciptaan atau konversi energinya, arang batu ini dibakar begitu saja dipakai untuk memanaskan air. Pemanasan air ini yang merubah energi panas menjadi energi tekanan dan menyebabkan pergerakan piston. Dan itulah awalnya mesin uap oleh James Watt.

Minyak bumi sebagai bahan bakar masa kini.

Bahan bakar karbon itu termasuk bahan bakar fosil (minyak, Gas dan batubara) dan juga sebenarnya Bioethanol dan Biogas-pun termasuk Carbon Based Energy, maksudnya merupakan energi yang bersumber dari pembakaran rantai H-C (Hydrogen dan Carbon). Dalam pemanfaatan Carbon Based Energy ini diperlukan mesin bakar (combustible) dalam menghasilkan energi yang akan dipakai. Carbon based energy ini mulai marak ketika diketemukan minyak dengan pemboran pada akhir 1800-an. Di Indonesia pencarian minyaknya juga sangat awal, bahkan sumur Talaga Said (Sumatra Utara) termasuk pengeboran kedua di dunia. dibor tahun 1885.

Pemanfaatan minyak bumi sendiri akhirnya meningkat tajam sejak tahun 1950-an (pasca PD II) karena juga didukung oleh penemuan mesin bakar yang akhirnya locking (terkunci) antara mesin motor bakar dengan bahan bakarnya. Penguncian mesin dengan bahan bakar inilah yang menyebabkan kebutuhan batubara merosot tajam dalam penggunaannya. Jadi merosotnya penggunaan batubara bukan akibat batubara yang berkurang cadangan maupun produksinya.

Dengan meningkatnya teknologi serta peningkatan taraf hidup manusia, kebutuhan energipun meningkat. Kebutuhan minyak bumi tentusaja meningkat sesuai dengan tingkat hidup.

Synfuel (Synthetic Fuel) - Bahan Bakar Buatan

Synfuel adalah singkatan dari Synthethic Fuel (bahan bakar sintetis) merupakan sebuah bahan bakar yang masih memanfaatkan rangkaian HC (Hidrokarbon) sebagai dasarnya. Synfuel ini masih menggunakan teknik subsitusi, artinya mengganti minyak alami dengan minyak buatan. ya buatan ... prosesnya dengan dasar proses kimia sederhana yang sebenarnya sudah berusaia lebih dari ratusan tahun :) .

Ada beberapa macam cara untuk memperoleh rangkaian Hidrokarbon ini. Masing-masing dikembangkan berdasarkan proses kimiawi yang berbeda. Di alam bebas, proses ini dilakukan secara alamiah dengan memanfaatkan energi panas (dari bumi) dan mereaksikan unsur-unsur yang juga sudah ada secara alami. Namun proses ini sangat khusus, sehingga tidak disembarang tempat akan dijumpai minyak dan gas bumi.

1. Synfuel dari Coal Gasification:

* Gasification 2C + ½O2 + H2O → 2CO + H2
* Water gas shift CO + H2O → H2 + CO2
* F-T reaction CO + 2H2 → CH2 + H2O
* Net reaction 2C + H2O+ ½O2 → CH2 + CO2

Proses ini memerlukan 2C dan setengah O2 dan menghasilkan satu CO2 untuk setiap CH2 yang diproduksi. Artinya menggantikan minyak dengan bahan bakar sintetik dari batubara (coal synfuel) akan melipatgandakan hingga 3 kali lipat penggunaan batubara dan menghasilkan duakali lipat CO2.

(F-T atau Fischer- Tropsch reaction adalah reaksi (2n+1)H2 + nCO → CnH(2n+2) + nH2O
2. Synfuel dari Coal Gasification + H2 dari pemisahan air:

* Gasification C + 1/4O2 + 1/2H2O → CO + 1/2H2
* Water-splitting 3/2H2O + Energy → 3/2H2 + 3/4O2
* F-T reaction CO + 2H2 → CH2 + H2O
* Net reaction C + H2O + Energy → CH2 + 1/2O2

Dengan penambahan hydrogen (H2) meningkatkan proses pembuatan synfuel dari batubara. Kebutuhan karbon menjadi berkurang setengah dari sebelumnya. dan TIDAK ada CO2 yang ikut terproduksi !

Tentunya hal ini akan sangat-sangat ramah lingkungan ( environment friendly).

Pertanyaannya darimana memperoleh Hidrogen ? Salah satunya dalah dengan memanfaatkan teknologi nuklir atau melalui PLTN

"whaddduh, hati-hati Pakdhe nanti dianggap menyalahi hukum Islam kalau bilang PLTN :( , soale sudah difatwa haram looh pakdhe"
"Hust ini bukan soal agama, ini sekedar ilmu untuk bermimpi :P "

nuklir-h2-efisiensi.jpgUntuk memperoleh Hidrogen ini ternyata efisiensinya berbeda untuk cara pemanasan dengan cara elekstrolisa. Bisa dilihat perbedaanya seperti di sebelah ini. Sebagai catatan saja, produksi H2 saat ini yang sudah dapat diimplementasikan dengan elektrolisa temperatur rendah.
Jadi dengan demikian hanya dengan penambahan H2 dari proses water splitting sudah akan mengurangi kadar CO2 yang dihasilkan. Saat ini Amrik sudah mampu memproduksi 11 Juta ton H2 pertahun tetapi melalui proses penguapan dan pengalihan bentuk (reformation) dari metana (CH4). Dimana tentusaja proses ini masih tergantung energi fosil dan masih menghasilkan CO2 sebesar 100 juta ton pertahun. Masih belum benar-benar biru, ya ?

Sebuah pembangkit berkapasitas 1100MW mampu memproduksi 360 ton H2/hari dengan efisiensi sebesar 24% efficiency. Dengan demikian masih diperlukan ribuan PLTN untuk mensupport pembuatan serta transportasi pembuatan synfuel. Seandainya terdapat efisiensi hingga 50% tentunya kebutuhan powerplant menjadi setengahnya.

3. Synfuel dari penangkapan CO2 (CO2 Capture) + H2 dari pemisahan air (Water-splitting):

* Reverse Water Gas Shift CO2 + H2 → CO + H2O
* F-T reaction CO + 2H2 → CH2 + H2O
* Water-splitting 3H2O + Energy → 3H2 + 3/2O2
* Net reaction CO2 + H2O + Energy → CH2 + 3/2O2

Tidak ada batubara yang diperlukan sebagai sumber Carbon. membutuhkan CO2 untuk memproduksi satu bagian CH2. Dan ketika CH2 dibakar maka emisi CO2 menjadi nol karena prosesnya menggambil CO2.
CO2 dari mana ?

Bagaimana kalau sekarang CO2nya juga diambil dari udara. Loooh hiya bisa saja, kan ?. Memang benar ada sebuah metode penangkapan CO2 dari udara, alatnya juga sudah ada CO2 capturing. Salah satunya dengan memanfaatkan karbon yang dilepaskan oleh cerobong gas disebut Flue Gas.

co2caputer.jpgPowerplant berbahan bakar batubara sebesar 1000MW menghasilkan 5.5 juta tons of CO2/tahun atau kira kira (14,500 tons/hari). Di amerika saja kira-kira 53% (0.38TWh) dari total pembangkit listriknya menggunakan batubara dan menghasilkan 2 billion tons of CO2/tahun ini sama saja total CO2 yang dibutuhkan untuk transportasi dalam setahun !! Jadi dengan recycle "flue gas" atau cerobong gas sudah mampu memotong 50% emisi karbon.

Dapat juga dipakai dengan CO2 ditangkap dari udara. Ya menangkap dari udara bebas. Bahkan saat ini sudah diproduksi walaupun masih untuk penelitian yaitu penangkapan CO2 dari udara seperti disebalah ini.

Jadi secara menyeluruh kalau saja proses ini semua sudah menjadi proses yang dapat dilakukan dalam sebuah pabrik minyak sinthetic akan terjadi proses daur ulang karbon yang benar-benar biru !

Nah sekarang kita tahu ada beberapa tahapan dalam menghasilkan synfuel atau BBS (bahan bakar sintetis). Pembuatannyapun berbeda-beda, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Termasuk kelebihan menghasilkan CO2 :) .

Kalau saja proses itu semua disebandingkan maka akan diketahui seberapa besar karbon yang dihasilkan. Lihat dibawah ini :

Secara lengkap kalau keseluruhan proses ini digabungkan maka akan diperoleh sumber bahan-bakar yang mungkin akan benar-benar biru (BBB). Maksudnya mimpi manusia untuk mendapatkan bahan bakar yang benar-benar biru dalam artian akan ramah lingkungan, rendah atau bahkan tanpa emisi karbon.

Tapi sekali lagi, proses inipun masih menyisakan pertanyaan. Proses ini adalah proses endoterm, yaitu proses (reaksi kimia) yang membutuhkan energi. Nah dari mana energi ini ? Kan ini reaksi kimia biasa, masih tidak mungkin menyalahi hukum fisika.
Blue Energy versi SBY !

"Pakdhe, jadi yang mana yang dibuat Pak SBY, dhe ?"
"Hust, Pak SBY ngga buat, beliau hanya mensupport sebuah usaha untuk mengurangi emisi Carbon. Dan juga beliau sangat menhargai penelitian tentang bahan-bakar sintetis ini"

Menurut bocoran dari dalam kubu SBY, bahwa yang sudah dilakukan Indonesia adalah tahap dimana membuat synfuel ini dengan gasifikasi. Mungkin proses antara yang pertama dan kedua diatas. Dimana Hydrogennya diperoleh dari "pemecahan air" (water splitting). Untuk 2000 liter air perlu ditambah kira2 3-8 kg carbon (tergantung air yang dipakai) untuk menghasilkan 1600 liter BBM. Karena air ini sebagai komponen mayoritas maka beberapa orang salah kaprah bilang BBM dari air. Kalau air formasi (air dari separator proses pemisahan minyak dan air di sumur minyak) yang dipakai, carbon yg ditambah lebih sedikit karena air formasi banyak mengandung karbon bebas. Kelompok ini juga sudah mencoba coba air formasi dari 2 lapangan di Sumatra dan 1 Lapangan di Jawa Timur.

:(" eh, Pakdhe katanya 'refinery' yang 5400 Bbl/day sdh 95 % selesai, ya?. Wah bagus juga pak SBY".
:D "Whallah koe iki mau ikutan tebar pesona !"

Yang mesti harus difikirkan adalah bagaimana emisi yg terbuang ketika memperoleh semua bahan-bahan ini termasuk ketika menghasilkan H2-nya dan juga pemanfaatannya (motor bakar). Karena walaupun pembakaran dalam mesin mobil dianggap lebih bersih, masih harus didihitungkan pula emisi yang terbuang ketika memproduksi synfuel ini.

Apapun yang telah dilakukan dengan Blue Energy ini di Indonesia (Minyak Indonesia Bersatu), tentusaja usaha ini harus diapresiasi. Karena sudah menunjukkan langkah kongkrit dalam mengatasi dan ikut serta berkiprah dalam pengembangan teknologi pembuatan minyak sintetis.

Refrensi

* K. Schultz, L. Bogart, G. Besenbruch, L. Brown, R. Buckingham, M. Campbell, B. Russ, and B. Wong, "HYDROGEN AND SYNTHETIC HYDROCARBON FUELS – A NATURAL SYNERGY*"
* Wikipedia

http://rovicky.multiply.com/journal/item/159

Penemu Bahan Bakar Air Minta Maaf

JAKARTA - Joko Suprapto, si penemu bahan bakar air yang dikenal dengan sebutan Blue Energy, meminta maaf maaf karena merasa telah menyusahkan banyak pihak yang menyangka ia telah diculik, padahal ia hanya mengasingkan diri akibat sakit. "Saya hanya menenangkan diri sambil menyusun strategi dan mencari dana karena proyek ini masih membutuhkan dana," kata warga Desa Ngadiboyo, Rejoso, Nganjuk, Jatim, Jumat (23/5) malam di depan wartawan.

Ia secara khusus juga meminta maaf kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). "Pertama-tama saya ingin minta maaf pada Presiden SBY dalam hal ini karena timing yang kita janjikan belum bisa tepat waktu. Namun hubungan saya dengan bapak presiden baik-baik saja tidak ada masalah," jawab dia.

Mengenai rencana proyek blue energy di masa mendatang yang tengah dia kerjakan, Joko berharap akan bisa menghasilkan yang positif bagi bangsa Indonesia. "Ya, supaya segera sampai ke masyarakat dan bisa dinikmati masyarakat luas terutama Indonesia ini," katanya.

Di tempat terpisah, Kapolri Jendral Sutanto membantah isu yang menyebutkan Joko hilang atau diculik. "Siapa bilang hilang. Kalau hilang pasti keluarganya sudah melapor. Sampai sekarang tidak ada laporan dari keluarganya. Periksa yang bener ke rumahnya, ada atau tidak. Atau mungkin lagi ditempat tertentu," kata Kapolri.

Kapolri menegaskan, kalau memang benar Joko Shilang dan keluarganya melapor, polisi pasti akan mencarinya sampai ketemu. "Kalau benar hilang, kita tunggu laporannya. Kita akan cari sampai ketemu.

Sebelumnya, Ketua DPR Agung Laksono meminta Polri menjelaskan soal hilangnya Joko Suprapto. "Berita simpang siur mengenai hilangnya, haruslah ada penjelasan dari instansi yang kompeten. Dari kepolisian termasuk dari pihak keluarganya apakah memang benar yang dimaksud hilang," kata Agung Laksono

Yuddy Chrisnandy, angggota Komisi I DPR yang membidangi masalalah pertahanan bahkan meminta Badan Intelijen Nasional (BIN) harus dilibatkan untuk mengungkap peristiwa ini. "BIN tentunya harus dilibatkan untuk mencari higga ketemu. Dan pemerintah, tentu saja tidak boleh memandang masalah ini sebelah mata. Dia lebih penting daripada Purnomo Yusgiantoro karena mampu berpikir alternatif dalam krisis energi," kata Yuddy.

Berawal dari SMS

Ihwal munculnya berita mengenai hilangnya Joko Suprapto, berawal dari sebuah SMS. Pesan singkat tersebut beredar di kalangan wartawan awal pekan ini.

Pesan singkat tersebut berbunyi: "Sudah 10 hari Joko, penemu BBM dari air menghilang. SBY perintahkan Kapolri, Panglima TNI, BIN, Bais, Densus 88 utk mencari. Krn SBY sdh putuskan di sidang kabinet, akan di-launching pd peringatan 100 thn kebangkitan nasional. Istana gerah kpd Tim Blue Energy krn merasa dipermalukan. Menristek Kusmayanto kena semprot Syamsir krn bisa merusak pemerintah dan menghancurkan sosialisasi kenaikan BBM. (A1 Classified)"

Wartawan pun heboh berburu berita tersebut. Mereka menghubungi pihak kepolisian, mendatangi rumah Joko di Nganjuk, dan bahkan mewawancarai Ketua DPR RI Agung Laksono. Sejumlah media merencanakan peliputan mendalam dan menyuguhkannya secara blow up. Namun ternyata akhirnya diketahui Joko tidak hilang, apalagi diculik. (persda network/ugi/yat)

http://www.tribunkaltim.com/Nasional/
Penemu-Bahan-Bakar-Air-Minta-Maaf.html